Memahami dan Memiliki Wawasan Tentang Logika Mantik
MEMAHAMI DAN MEMILIKI WAWASAN TENTANG PENGERTIAN LOGIKA /MANTIQ
MATA KULIAH : ILMU LOGIKA/MANTIQ
DOSEN PEMBIMBING : Dr. ALMA’ARIF, M.Hum
DISUSUN OLEH:
AGUSTINI
NIM : 182119289
PRODI EKONOMI SYARIAH
JURUSAN SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM
STAIN BENGKALIS
TAHUN AJARAN 2020/2021
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. Atas limpahan rahmat dan karunianya-Nya makalah ini dapat kami selesaikan. Makalah ini kami kami susun dalam rangka untuk memenuhi tugas mata kuliah Ilmu Logika/Mantiq dengan materi “Memahami dan Memiliki Wawasan Tentang Ilmu Logika/mantiq” Kami sadari bahwa makalah ini masih banyak memiliki kekurangan, baik dari segi isinya, bahasa dan lain sebagainya.
Untuk itu saran, kritik, dan perbaikan dari pembaca.Semoga makalah ini bisa memberi manfaat.
Bengkalis,14 September 2020
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ 1
A. Latar Belakang............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah............................................................................. 1
C. Tujuan Penulisan............................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN......................................................................................... 2
A. Pengertian Logika............................................................................ 2
B. Objek Logika..................................................................................... .... 5
C. Sejarah Logika................................................................................ .... 7
D. Manfaat Logika.............................................................................. .... 10
E. Pembagian Logika......................................................................... .... 11
BAB III PENUTUP............................................................................................. .... 15
KESIMPULAN........................................................................................ .... 15
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... .... 17
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Berpikir merupakan aktivitas manusia untuk menemukan pengetahuan yang benar, sedang kebenaran itu tidaklah persis sama pada setiap individu. Maka setiap jalan pikiran manusia mempunyai kriteria kebenaran yang berfungsi sebagai landasan proses penemuan kebenaran tersebut, dan setiap penalaran mempunyai kriteria kebenaranya masing-masing.
Aktivitas berpikir sebagai penalaran manusia mempunyai ciri utama sebagai suatu pola berpikir yang secara luas disebut logika. Dalam mempelajari pola berpikir yang luas dalam logika itulah dibutuhkan terlebih dahulu tentang apa itu logika dan ruang lingkupnya karena hal ini akan membantu dasar pemikiran yang berdasarkan penalaran yang logis dan kritis. selain berguna bagi sarana ilmu, penalaran yang logis dan kritis ini juga yang nantinya akan mambantu pemahaman bagi semua ilmu, karena penalaran yang logis, kritis, dan sistematis inilah ang menjadi salah satu syarat sifat ilmiah.
Rumusan Masalah
Apa pengertian logika ?
Apa saja objek logika ?
Bagaimana sejarah logika ?
Apa saja kegunaan dan manfaat logika ?
Bagaimana pembagian logika ?
Tujuan Penulisan
Mampu menjelaskan dan mendeskripsikan pengertian logika.
Mampu menggambarkan objek-objek dalam logika.
Mampu menggambarkan sejarah singkat logika.
Mampu menjelaskan kegunaan dan manfaat dari logika.
Mendeskripsikan pembagian logika.
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Logika
Secara etimologi, Logika berasal dari perkataan Yunani yaitu logike (kata sifat) dan logos (kata benda), yang berarti “pikiran atau perkataan sebagai pernyataan dari pikiran, alasan atau uraian”.istlah lain yang digunakan adalah “mantiq” yang diambil dari kata kerja arab nathaqa yang bearti berkata atau berucap.
Adapun arti logika secara terminology menurut George f. kneller adalah “penyelidikan tentang dasar-dasar dan metode-metode berfikir benar”,
Dengan demikian, logika merupakan pekerjaan akal pikiran manusia dalam bernalar untuk menghasilkan kebenaran atau penyimpulan yang benar. Sebagai ilmu, disebut logica scientia yang berarti ilmu logika, namun sekarang ini hanya lazim disebut dengan logika saja. Jadi, logika adalah suatu ilmu pengetahuan tentang prinsip-prinsip dan norma-norma penyimpulan yang dipandang dari aspek yang benar (sahih). Ada yang berpendapat bahwa logika adalah ilmu dalam lingkungan filsafat yang membahas prinsip-prinsip dan hukum-hukum penalaran yang tepat. Ada juga yang menandaskan bahwa logika adalah ilmu pengetahuan (science) tetapi sekaligus merupakan kecakapan atau keterampilan yang merupakan seni (art) untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur. Dalam hal ini, ilmu mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui, sedangkan kecakapan atau keterampilan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Selain itu, ada juga ahli yang berpendapat bahwa logika adalah teknik atau metode untuk meneliti ketepatan berpikir. Jadi logika tidak terlihat selaku ilmu, tetapi hanyalah merupakan metode. Ada pula yang mengatakan bahwa logika adalah ilmu yang mempersoalkan prinsip-prinsip dan aturan-aturan penalaran yang sahih (valid).
Menurut Burhanuddin Salam, Logika adalah “ilmu pengetahuan yang merumuskan tentang hukum-hukum, asas-asas, aturan-aturan atau kaidah-kaidah tentang berfikir yang harus ditaati supaya dapat berfikir tepat dan mencapai kebenaran” atau “ilmu pengetahuan yang mempelajari aktivitas akal manusia di pandang dari segi benar atau salah”
Sheldon Lachman, mengemukakan: Logic is the systematic discipline concerned with the organization and development of the formal rules, the normative prosedures and the criteria of valid inference (logika adalah cabang ilmu yang sistematis mengenai penyusunan dan pengemebangan dari aturan formal, prosedur normatif, dan ukuran-ukuran bagi penyimpulan yang sah).
Jan Hendrik Rapar, (1996:10) “Logika adalah cabang filsafat yang mempelajari, menyusun, mengembangkan, dan membahas asas-asas, aturan-aturan formal, prosedur-prosedur serta kriteria yang sahih bagi penalaran dan penyimpulan demi mencapai kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional”.
Ir. Poedjawijatna, logika adalah filsafat budi (manusia) yang mempelajari teknik berpikir untuk mengetahui bagaimana manusia berpikir dengan semestinya.
Hasbullah Bakry, logika adalah ilmu pengetahuan yang mengatur penelitian hokum-hukum akal manusia sehingga menyebabkan pikirannya dapat mencapai kebenaran.
Berdasar dari pengertian logika yang diuraikan di atas, dapat dikatakan bahwa logika merupakan cabang filsafat yang mempelajari, menyusun, mengembangkan, dan membahas asas-asas, aturan-aturan formal, prosedur-prosedur, serta kriteria yang sahih bagi penalaran dan penyimpulan demi pencapaian kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.
Objek Logika
Objek adalah sesuatu yang merupakan bahan dari penelitian atau pembentukan pengetahuan. Setiap ilmu pengetahuan pasti mempunyai objek yang dibedakan menjadi dua, yaitu objek material dan objek formal. Objek material dari sesuatu adalah hal yang diselidiki dari sesuatu itu, mencakup yang konkret dan yang abstrak. Objek formal adalah sudut pandang dari objek itu disorot sebagai pembeda dengan objek lainnya.
Objek material sesuatu ilmu pengetahuan mungkin saja dapat sama untuk beberapa ilmu pengetahuan, namun ilmu-ilmu itu berbeda karena objek formalnya. Sebagai contoh: psikologi, sosiologi, dan pedagogik memiliki objek material yang sama, yaitu manusia. Akan tetapi, ketiga ilmu itu berbeda karena objek formalnya yang berbeda. Objek forma psikologi ialah aktivitas jiwa dan kepribadian manusia secara individual yang dipelajari lewat tingkah laku, objek formal sosiologi ialah hubungan antar manusia dalam kelompok dan antar kelompok dalam masyarakat, sedangkan objek formal pedagogik ialah keegiatan manusia untuk menuntun perkembangan manusia lainnya ke tujuan tertentu.
Perlu dicatat di sini bahwa yang pantas menjadi objek material suatu ilmu ialah suatu lapangan, bidang, atau materi yang benar-benar konkret dan dan dapat diamati. Hal itu perlu ditegaskan karena kebenaran ilmiah adalah kesesuaian antara apa yang diketahui dengan objek materialnya. Jika objek material itu abstrak dan tidak dapat diamati, tentu saja apa yang diketahui (pengetahuan) tidak mungkin dapat dicocokkan dengan objeknya. Dengan demikian, tidak mungkin dapat dicapai kebenaran yang merupakan kesesuaian pengetahuan dengan objeknya itu.
Surajiyo, dkk. (2009:11) mengatakan lapangan dalam logika adalah asas-asas yang menentukan pemikiran yang lurus, tepat, dan sehat. Agar dapat berpikir lurus, tepat dan teratur, logika menyelidiki, merumuskan serta menerapkan hukum-hukum yang harus ditepati.
Berpikir adalah objek material logika. Yang dimaksudkan berpikir di sini adalah kegiatan pikiran, akal budi manusia. Dengan berpikir manusia mengolah dan mengerjakannya ini terjadi dengan mempertimbangkan, menguraikan, membandingkan serta menghubungkan pengertian yang satu dengan pengertian yang lainnya. Dalam logika berpikir dipandang dari sudut kelurusan dan ketepatannya. Oleh karena itu, berpikir lurus dan tepat merupakan objek formal logika.
Sejarah Singkat Logika
Apabila ditelusuri dari awal keberadaan logika, tidak terlepas dari ahli pikir sebelumnya seperti Thales (624-548 SM), filsuf Yunani pertama, meninggalkan segala dongeng, takhayul, dan cerita-cerita isapan jempol dan berpaling kepada akal budi untuk memecahkan rahasia alam semesta, sejak saat itulah ia meletakkan dasar-dasar berfikir logis. Bahkan ketika Thales mengatakan air adalah arkhe (prinsip atau asas pertama) alam semesta, ia telah memperkenalkan logika induktif. Bukankah perkataan Thales ini merupakan kesimpulan yang dimaknai bahwa air adalah jiwa segala sesuatu, misalnya air jiwa tumbuh-tumbuhan (karena tanpa air tumbuhan mati), darah jiwa hewan dan manusia, sedangkan uap dan es adalah air, maka penalaran induktif (logika) yang dilakukan Thales adalah sebagai berikut:
Air adalah jiwa tumbuh-tumbuhan
air adalah jiwa hewan,
air adalah jiwa manusia,
air jugalah uap, dan air jugalah es.
Jadi, air adalah jiwa dari segala sesuatu, yang berarti, air adalah alam semesta
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sejak Thales, sang filsuf pertama itu,logika telah mulai dikembangkan. Semua filsuf sesudah Thales pun telah berperan serta dalam pengembangan logika kendatipun istilah logika itu sendiri belum dikenal.
Aristoteles (384 – 322 SM) yang juga belum menggunakan kata logika, tetapi menggunakan kata analitika dan dialektika. Analitika untuk penyelidikan mengenai berbagai argumentasi yang bertitik tolak dari putusan-putusan yang benar. Sedangkan dialektika untuk penyelidikan mengenai argumentasi-argumentasi yang bertitik tolak dari hipotesis atau putusan yang tidak pasti kebenarannya. Aristoteles mewariskan kepada murid-muridnya enam buku yang oleh murid-muridnya dinamai Organon, yang berarti alat. Enam buku itu, ialah (1) Categoriae, menguraikan sesuatu objek dalam jenis-jenis pengertian umum; (2) De interpretatione, membahas mengenai komposisi keputusan; (3) Analytica priora, membahas pembuktian; (4) Analytica posteriora, membahas pembuktian; (5) Topica, berisi cara berargumentasi atau cara berdebat; (6) De sophhisticis elenchis, membicarakan kesesatan dan kekeliruan berpikir. Rapar (1996:13) mengemukakan inti logika Aristoteles ialah silogisme. Dan silogisme itulah yang sesungguhnya merupakan penemuan murni Aristoteles dan yang terbesar dalam logika.
Perkembangan logika pada pasca Aristoteles banyak dilanjutkan oleh para murid-muridnya, dan Abad ke 1 sebelum masehi merupakan abad pertama munculnya logika oleh filsuf Cicero di mana logika masih diartikan sebagai seni berdebad. Pada permulaan abad ke 3 sesudah masehi oleh Alexander Aphrodisias adalah orang yang pertama kali menggunakan kata logika dalam arti ilmu yang menyelidiki lurus tidaknya pemikiran kita
Rapar (1996:14) mengemukakan bahwa sampai abad kedua belas atau ketiga belas, karya-karya tulis di bidang logika yang masih digunakan ialah Categoriae dan De interpretatione Aristoteles serta Eisagoge Porphyrius Pada abad ke sampai abad kelimabelas, tampillah logika modern dengan tokoh-tokohnya, antara lain, Petrus Hispanus (1210 – 1278), roger Bacon (1214 – 1292), RYMUNDUS Lullus (1232 – 1315), dan William Ockham (1285 – 1349)
Kendatipun logika modern telah dikembangkan, logika Aristoteles diteruskan oleh Thomas Hobbews (1588 – 1679) dan John Loek (1632 – 1704). Francis Bacon (1561 – 1626) mengembangkan logika induktif, sedangkan Gottfried Wilhelm Leibniz (1646 – 1716, George Boole (1815 – 1864), John Venn (1834 – 1923), Dan Gottlob Frege (1848 – 1925) dikenal sebagai para pelopor logika simbolik. Kemudia, filsuf besar Amerika Serikat, Charles Sanders Peirce (1839 – 1914) yang pernah mengajar logika di John Hopking University, melengkapi logika simbolik lewat karya tulisnya yang sangat banyak. Ia menafsirkan logika selaku teori umum mengenai tanda (general theory of signs) dan melahirkan dalil yang disebut dalil Peirce (Peirce’s law) Logika simbolik simbolik mencapai puncaknya lewat karya bersama Alfred North Whitehead (1861 1947) dan Bertrand Arthur William Dussel (1872-1970) berjudul Principia Mathematica, berjumlah tiga jilid dan ditulis pada tahun 1910 – 1913. Logika simbolik diteruskan oleh Ludwing Wittgenstein 911889 – 1951), Ruddolf Carnap (1891 – 1970), Kurt Godel (1906 – 1978, dan lain-lain.
Manfaat Logika
Setidaknya ada empat kegunaan dengan belajar logika, yaitu:
membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tertib, metodis, dan koheren;
meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif
menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri
meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kekeliruan serta kesesatan.
Selanjutnya dikatakan bahwa bagi ilmu pengetahuan, logika merupakan suatu keharusan. Tidak ada ilmu pengetahuan yang tidak didasarkan pada logika. Ilmu pengetahuan tanpa logika tidak akan pernah mencapai kebenaran ilmiah. Sebagaimana dikemukakan oleh Aristoteles, bapak logika, yaitu logika benar-benar merupakan alat bagi seluruh ilmu pengetahuan. Oleh karena itu pula, barang siapa mempelajari logika, sesungguhnya ia telah menggenggam master key untuk membuka semua pintu masuk ke berbagai disiplin ilmu pengetahuan.
Di samping kegunaan di atas, Surajiyo, dkk. (2009:15) mengemukakan bahwa logika juga dapat memberikan manfaat teoritis dan praktis. Dari segi kemanfaatan teoritis, logika mengajarkan tentang berpikir sebagaimana yang seharusnya (normatif) bukan berpikir sebagaimana adanya seperti dalam ilmu-ilmu positif (fisika, psikologi, dsb.). Dari segi kemanfaatan praktis, akal semakin tajam/kritis dalam mengambil putusan yang benar dan runtut (consisten).
.
Pembagian Logika
Secara umum logika ini terbagi menjadi dua (2) macam, diantaranya sebagai berikut:
Logika Alamiah
Logika alamiah merupakan suatu logika kinerja dari akal budi manusia yang selalu berfikir dengan secara cermat, tepat, serta lurus sebelum pemikiran tersebut mendapat pengaruh dari luar seperti contohnya keinginan-keinginan yang memiliki sifat subyektif. Logika alamiah ini sudah ada pada saat manusia itu dilahirkan, sehingga logika ini memiliki sifat yang murni.
Logika Ilmiah
Apabila seseorang diberikan bimbingan dengan secara sistematis untuk dapat mengusai cara berfikir yang tepat serta juga teratur sesuai dengan peraturan dan juga kebenaran dalam menagani cara berfikir, maka untuk logika ilmiah ini akan membuat akal budi seseorang itu bekerja dengan secara lebih tepat, lebih cermat, lebih teliti serta juga tentu lebih lurus. Logika ilmiah inilah yang berguna dalam menghindari kesalahan didalam pemikiran terhadap sesuatu, sehingga kesalahan itu dapat dikurangi. Logika ilmiah ini dibagi menjadi dua (2) bagian, diantaranya sebagai berikut:
Logika formal
Merupakan suatu logika yang berdasarkan pernyataan, oleh sebab itu pernyataan yang di jadikan yakni sebagai dasar dalam membuat kesimpulan haruslah relevan, bentuk serta strukturnya juga harus tepat. Apabila dasarnya salah, maka di akhir kesimpulannya juga akan salah, jadi kesimpulan yang tepat itu di dapatkan dengan berfikir secara benar, dengan berdasarkan hasil penyelidikan.
Logika material
Merupakan suatu logika yang dapat membuat kesimpulan atau juga pernyataan itu dengan berdasarkan materi atau objektif. Pada logika ini materi memiliki peranan yang penting. Logika material ini disebut juga yakni sebagi logika matrelisme, yang memiliki arti materi menjadi faktor yang paling utama dalam menyimpulkan sesuatu dengan secara tepat. Jadi logika material ialah logika yang dapat mengambil kesimpulan itu berdasarkan kondisi objek atau materi, sehingga materi ini menjadi dasar dalam menciptakan pernyataan.
.Logika filsafati dan logika matematik
Logika filsafati dapat digolongkan sebagai suatu ragam atau bagian logika yang masih berhubungan erat dengan pembahasan dalam bidang filsafat, misalnya logika kewajiban dengan etika atau logika arti dengan metafisika. Adapun logika matematik merupakan suatu ragam logika yang menelaah penalaran yang benar dengan menggunakan metode matematik serta bentuk lambing yang khusus dan cermat untuk menghindarkan makna ganda atau kekaburan yang terdapat dalam bahasa biasa.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Berdasarkan dari pembahasan materi diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa logika adalah landasan utama utk menguasai filsafat & ilmu pengetahuan serta sarana penghubung antara filsafat & ilmu. Logika menyelidiki, menyeleksi, dan menilai pemikiran dengan cara seriusdan terpelajar serta bertujuan untuk mendapatkan kebenaran, terlepas dari segalakepentingan dan keinginan perorangan. Logika merumuskan serta menerapkanhukum - hukum dan patokan - patokan yang harus ditaati agar seseorang dapatberpikir benar, efisien, sistematis, dan teratur.
Dengan demikian ada dua obyek penyelidikan Ilmu Logika (Ilmu Mantiq), Pertama, Pemikiran sebagai obyekmaterial juga dikenal dengan nama Logika Material dan yang kedua, patokan-patokan atau hukum - hukum berpikir benar sebagai obyek formalnya, yangdisebut logika formal. Pemikiran yang benar dapat dibedakan menjadi dua bentuk berbeda secararadikal yakni dari cara berpikir umum ke khusus (deduktif) yaitu cara berpikiryang dipergunakan dalam logika formal yang mempelajari dasar – dasarpersesuaian (tidak adanya pertentangan) dalam pemikiran dengan menggunakanhukum - hukum, rumus - rumus, patokan - patokan berpikir benar, dan dari caraberpikir khusus ke umum (induktif) yaitu cara berpikir yang dipergunakan dalamlogika material yang mempelajari dasar – dasar persesuaian pikiran dengankenyataan (penyesuaian idealita dengan realita).
DAFTAR PUSTAKA
Burhanuddin Salam, Logika Formal: Filsafat Berpikir (Jakarta: Bina Aksara,1988),
Drs. Surajiyo, Drs Sugeng Astanto, dan Dra Sri Andiani. 2005. Dasar-Dasar
Logika. Jakarta: Bumi Aksara.
George F, Logic and Language of Education (New York: Tp,1966),
Sangat membantu, semangat selalu:)
ReplyDelete